Pagi ini, udara masih sangat dingin menggigit, kabutpun masih menari-nari di halaman rumahku. Embun baru saja mendarat di atas daun dan mahkota bunga mawar merahku. Tapi aku harus segera bangun dari peraduanku. Kalau tidak, hari ini aku akan ketinggalan kereta lagi seperti minggu lalu. Ya..benar hari ini aku harus kembali ke kota tempatku belajar, menggali ilmu S-1 masih kurang beberapa semester lagi, huf……capek juga sech kalau harus pulang tiap minggu, tapi gimana lagi, aku harus pulang, kalau tidak aku tak dapat uang jajan. Ya biasalah anak kos yang masih andalkan gaji Ayahku yang hanya pegawai sipil.
Langkahku ku percepat untuk sampai di Stasiun Kota. Jarum jam hampir menunjuk ke angka 6, tandanya kereta yang aku tumpangi akan datang di stasiun kota. Saat di loket ku lihat telah banyak yang mengantri, aku melihat sekeliling antrian, siapa tau ada yang kukenal, aku kan bisa titip beli tiket, ya biasa lah males ngantri. Aku perhatikan dari antrian depan menuju belakangnya, huf leganya akhirnya aku temukan sasaranku, seorang gadis berjilbab merah mengantri di barisan nomor lima. Segeralah aku mendekati gadis ayu itu. Kutepuk bahunya seraya mengucapkan salam.
“Assalamu’alakum Cantik!!!! Boleh nitip beliin tiket Nich??”
Sapaku yang membuyarkan konsentrasinya.
“Eh Ayu, Wa’alaikumsalam, boleh aja. Mana uangmu, mumpung ga ada yang nitip ke aku nich!!!”
katanya sambil tersenyum manis. Akupun segera menyerahkan selembar lima ribuan yang sudah kucel.
“Wah kucel banget uangmu, ga ada yang lebih kucel lagi dari ini???”
Godanya, aku balas dengan senyuman nyengir tanpa dosa.
Itu teman sekelasku waktu SMA, namanya Dia, salah satu primadona sekolahku dulu. Yang naksir Dia banyak banget, sampai Guruku pun ada yang naksir, tapi yang masih bujang lho!
Eh iya, Aku Ayu, Kartika Ayundira lengkapnya. Umurku 18 tahun, tapi wajahku masih imut kayak anak SMP he he ‘imoet bangggget’ kata teman-temanku di sekolah dulu. Emang sich postur tubuhku agak kecil tapi tinggi standart lah ga pendek-pendek banget. aku juga termasuk cewek tomboy, tapi ketutup ma jilbabku. Kata sepupuku, untung aku pake jilbab, kalo ga aku pasti kayak cowok, lha wong mainnya aja kaya anak laki-laki, hobby banget maen layangan, sepak bola di lapangan kapung, maen gunduk sama anak-anak Diniyah, juga jadi juara lari kalo tanding sama santri cowok di Diniyah-ku.
Sekarang aku kuliah di Universitas Swasta yang lumayan terkenal di propinsiku. Kuliah jurusan teknik yang mestinya cocok untuk anak laki-laki. Pilihanku ini dapat tantangan dari Ibuku, katanya
”Anak perempuan kok maunya jadi tukang insinyur, seharusnya kamu itu kuliah yang cocok sama anak perempuan, jadi dokter atau perawat gitu, kan lebih feminim. Ga harus pencilaan kayak lanang.”
Kata-kata ibuku itu hanya hembusan angin bagiku, lha wong aku cuek banget dan juga dapat dukungan dari Ayahku, soalnya dulu Ayahku punya cita-cita jadi tukang insinyur, tapi ga kesampain, ya ga ada biaya waktu itu. Jadi waktu aku pilih jurusan teknik Ayahku dukung aku sepenuhnya, Horree!!!! Itu ekspresiku waktu dulu. Ya maklumlah aku kan anak kesayangan Ayah, anak bungsu dari 3 Dara he he. Kakakku semua perempuan dan sudah kerja, tinggal aku yang masih kuliah. Aku dan kedua kakakku sangat berbeda, keduanya sangat fenimin, sangat anggun dengan jilbabnya. Dan paling membuat orang-orang kagum, sifat keibuannya itu lho, meskipun belum menikah tapi mereka sangat keibuan dan lembut serta santun. Pokoknya bisa dibilang cewek banget deh. Beda denganku, apalagi sifat keibuan, pakai rok aja bisa dibilang sangat jarang. Seharianku diwarnai dengan celana jeans n T-shirt, tapi masih longgar sech, bukan semacam “baju adek” gitu, maksudnya baju yang seharusnya muat dipakai ma adik kita and ketat kalau kita pake’.
Eh kembali ke Stasiun kota, setelah mendapat tiket, aku dan Dia masih harus menunggu di bangku yang disediakan untuk penumpang yang menunggu kereta.
“Huff sepertinya hari ini kita akan upacara hari senin nich, tuh banyak banget penumpangnya, alamat ga dapet tempat duduk kaya’ biasa”
Kataku sambil menggerutu. Gerutuanku disambut Dia dengan senyuman manis.
“Sabar to Yu’, yang penting kereta masih bisa mengangkut kita”
Katanya sambil tersenyum.
“Sabar sich sabar, tapi ada batasnya, masak naik kereta aja sangat menyiksa, sudah berdiri, uyel-uyelan eh banyak asongan lagi. Belum lagi orang yang jail, sukanya melecehkan kita para cewek-cewek, apa ga’ punya pikiran itu orang-orang, ato orang yang tangannya ahli banget maen sulap ambil dompet ato hape yang kurang diperhatikan pemiliknya, akhirnya kita kan jadi menderita!!!!”
Ocehanku yang lumayan panjang sambil nada yang agak tinggi.
“Oh kamu juga cewek ya????”
Goda si Dia, aku yang jadi sasaran cuman manyun aja.
“Ya itulah resikonya, kereta memang transportasi rakyat yang murah, harganya terjangkau bagi rakyat kita yang masih di ekonomi menengah ke bawah, jadi pantas aja kalo peminatnya lebih banyak. Lagian naik kereta itu banyak seninya kok!”
Sambung Dia. Mendengar hal itu akupun melotot.
“Hah banyak seninya??? Dimananya??”
Akupun protes
“Lah tadi, kaya’ ngantri dulu baru dapet tiket, nunggu kereta datang baru naik, kalo ga ada tempat duduk ya berdiri, kalo ada ya duduk.”
Katanya sambil senyum.
“Ya itu ma bukan seni, itu harus kalo ga dapet tiket mana bisa naik kereta Non. Juga kalo ga’ ada tempat duduk ga balakan bisa duduk!!!!”
Kataku sambil manyun.
“Itulah seninya, kita cuma bisa dapetin di kereta api, di dalamnya kita juga bisa nyaman jalan-jalan, ya silaturohmi ma penumpang lain, ato cari kenalan baru. Siapa tau bisa jadi teman. Di sana kita juga belajar banyak, misal sopan-santun sama orang lain, beramal sama pengemis, dapat pelajaran musik dari pengamen, dapat belajar dagang dari penjual asongan, lah banyak kan??”
Kata Dia menjelaskan dengan sabar padaku.
“Iya dech Bu Guru, emang sech kalo dipikir-pikir emang bener. Semuanya emang ada manfaatnya, cuman banyak ruginya juga!!!!”
Kataku, yang terakhir tadi nadanya agak tinggi.
“Iya sich, tapi…..”
belum sempat melanjutkan kalimatnya kami dikejutkan suara klakson kereta yang datang.
“Hufffff akhirnya datang juga!!!!”
he he kaya acara di Tipi ya?? He he
“Di, ayo naik, entar ga dapet tempat lho”
kataku sambil bangun dari tempat duduk dan diikuti Dia, kamipun berlari kecil mendahului penumpang lainnya yang akan naik.
Saat di atas kereta, ternyata benar dugaanku, kami tak dapat tempat duduk, malahan aku terpisah jauh dengan Dia, dia berada di tengah gerbong, sedangkan aku berada di ujung paling belakang, walau kami berada satu gerbong, tapi tetap saja tidak bisa dekat, karena penumpangnya sangat banyak.
Akhirnya akupun menikmati perjalananku yang lumayan tidak nyaman di kereta ini, tapi aku berusaha senyaman mungkin, agar tidak lelah akupun berdiri merapat ke dinding gerbong. Sambil melihat gambar alam yang disediakan oleh jendela kereta, aku menikmati hasil ciptaan Allah yang sangat luar biasa, pohon-pohon yang berbaris di tepi rel bak pasukan yang berbaris menjaga keamanan istana.
Akhirnya setelah satu setengah jam berdiri di antara banyak penumpang di gerbong kereta yang berbau khas, sampailah aku di kota yang ku tuju. Kota yang asri, walaupun tergolong kota besar, tapi tidak terlalu bising dan berpolusi. Itulah salah satu penyebab aku pilih kota hijau ini. Di depan Stasiun Kota, aku berpisah dengan Dia, kita beda jurusan dan beda Angkot pula. Akhirnya, aku sendirian.
Hampir lima belas menit aku menunggu angkot menuju Kampusku, akhirnya aku temukan angkot yang cocok. Aku pilih duduk di bangku paling belakang, bangku favoritku. Sebari berjalan menuju ke Kampusku, aku menikmat jalur Angkot yang panjang. Aku merasa terhibur memperhatikan gambar alam dari jendela Angkot yang dihiasi stiker butut. Hingga tak terasa sudah hamper 20 menit aku di dalam angkot itu.
Tibalah aku di halte angkot tempatku turun. Jalanku percepat, waktu sudah hmpir menunjuk pukul 9 pagi, padahal jam sembilan lebih lima belas menit aku harus mengikuti mata kuliah Matrik yang harus aku ulangi lagi, karena dulu saat semester tiga nilaiku hanya C+. Ya begitulah...bukannya Aku tidak bisa, tapi saat ujian akhir aku lagi sakit, jadinya hanya mampu menyelesaikan 2 soal dai 10 soal yang diberikan. Akhirnya hanya nilai itu yang kudapat.
Saat di depan kelas Matrik, aku melihat beberapa adik tingkatku yang menunggu masuk. Tapi aku terheran-heran, padahal saat ini sudah jam 09.20, kenapa masih belum masuk? Lalu kuhampiri gadis berjilbab biru yang berdiri di depan pintu.
”Ratna, kok belum masuk?”
tanyaku pada gadis itu.
”Eh Mbak Ayu, Kuliahnya diliburkan Mbak, soalnya Pak Dadang sekarang lagi tugas di Bandung, jadi cuma diberi tugas, sekarang tugasnya ditempel di depan Kajur. Mbak liat aja di sana.”
Kata Ratna dengan jari yang masih sibuk mengetik tombol Hpnya.
”Oooo gitu ya, ya udah kalo gitu, makasih banget infonya ya! Aku ke Kajur dulu”
Pamitku pada Gadis berjilbab biru itu.
”Iya Mbak”
Jawabnya sambil tersenyum.
Akupun segera menuju Kajur yang berada satu tingkat tempatku berjalan ini. Dengan berlarian kecil aku menaiki tangga yang berjumlah 20. Sesampai di puncak tangga, aku segera menuju papan yang dilapisi kaca, kulihat banyak tempelan kertas yang berisi macam pengumuman, kuperhatikan satu persatu. Dengan suara hampir tidak terdengar kubaca tulisan yang tersedia di depanku.
”Jadwal Kuliah Statistik, Pengumuman Beasiswa, Brosur Seminar, Jadwal Praktikum, Tugas Matrik...Ah ini dia!”
Dengan mata berbinar serasa sangat lega menemukan yang aku cari, kuambil notes dan pensil favoritku. Segeralah kutulis tugas yang diberikan Pak Dadang.
”Huf...banyak juga soalnya tapi waktunya hanya seminggu, waduh padahal aku banyak banget tugas”
Gerutuku setelah kutulis tugas itu.
’Tapi....Semangat aja dech!!! Lagian proposal Magangku untuk akhir bulan ini, jadi masih bisa selesain tugas dulu. Ehm...kerjain di Perpus aja dech!”
Gumamku sambil meninggalkan papan pengumuman.
Dengan tenang Aku berjalan menuju Perpustakaan Pusat yang terletak di tengah area Kampusku. Saat berjalan, aku bertemu banyak kenalanku dari jurusan lain, sambil menyapa atau sekedar berjabat tangan atau bercipika-cipiki tentunya hanya untuk teman Mahasiswi aja lah! Setelah kulalui perjalananku dari kelas menuju perpustakaan yang lumayan panjang, tiba juga aku di tempat yang ku tuju. Dengan mengeluarkan Kartu Tanda Mahasiswa milikku dan Binder, aku menuju ke tempat penitipan tas di lorong bawa sebelah pintu masuk.
Dengan menyorotkan KTM ke alat penditeksi, akupun diijinkan memasuki ruangan Perpustakaan yang sangat besar. Kulalui lorong-lorong rak buku yang berisi banyak judul. Tapi aku memilih rak paling belakang yang terdapat berjajar buku untuk jurusan teknik. Kuambil buku bercover berwarna hijau tebal, berjudul Cara Menggambar Perspektif Bangunan. Setelah itu aku menuju ke bangku untuk membaca buku tebal itu. Ku cari-cari tema pada Daftar Isi, dan aku temukan yang kucari. Sambil membaca, kucatat hal yang penting di Binderku.
Aku sangat berkonsentrasi sehingga tak kuhiraukan kejadian disekitarku. Namun tiba-tiba...
”Ayu......”
Konsentrasiku buyar seketika dikejutkan suara laki-laki yang tak asing lagi di telingaku.
”Duh ngagetin aja! Suka banget ngagetin orang!”
Komentarku dengan diikut tanganku yang memukul lengannya yang besar.
”Aduh...kamu ini, kecil tapi kalo mukul sakit!”
Katanya merespon tindakanku tadi dengan dibarengi muka nyengir khasnya.
”Sakit ya! Duh kacian deh loe!”
Jawabku sambil nyengir juga
“Itu balasannya untuk orang yang usil”
Tambahku lagi sambil melihat dia mengambil kursi di depan dan mengarahkannya di sebelahku.
“Lagi ngapain Non! Serius banget?”
Tanyanya dengan gaya sok manis manja.
”Ya baca lah!”
Jawabku cuek
” Iya baca apaan? Tebel banget bukunya!”
”Iya, kalo ditimpuk ke kepalamu pasti enak ya he he he!”
Jawabku sambil nyengir.
”Ye...emang kepalaku ini samsak, main timpuk aja! Eh aku serius, lagi cari apaan?”
Katanya sewot sambil manyun dengan bibir yang panjang.
”Ini lagi cari bahan buat TA, biasa dah semester tua nich!”
Kataku sambil serius baca dan bolak balikkan lembaran kertas.
”Ooooooo.......”
Katanya sambil monyongin bibirnya lagi.
Cowok tinggi ini temanku sejak SMA, dulunya dia kuliah di Ibu Kota, tapi karena Bokapnya harus pindah tugas ke daerah ini, dia ikut pindah juga. Entah kenapa dia mau ikut pindah, padahal di sana kan dia bisa kos atau tinggal di rumah Kakak sulungnya, atau karena dia Anak Mami, jadi gak bisa jauh dari Maminya (Hi hi hi (^_^)).
Dia salah satu cowok impian banyak cewek-cewek normal, maksudnya dia itu punya banyak kelebihan yang bisa dijadikan idola cewek. Posturnya tinggi besar, kulit coklat tapi cakep, berwajah indo-china-jerman dan sedikit eropa, bermata biru gelap dan berambut panjang sebahu bergelombang. Lengan besar berotot pertanda dia rajin keluar-masuk tempat fitnes.
Di samping itu, dia juga termasuk cowok tajir, tapi dia tampil sederhana, dan bukan tipe cowok metroseksual yang suka perhatikan penampilan. Cukup dengan T-Shirt dilapisi kemeja dan celana jeans butut favoritnya, dia melenggang ke kampus. Hampir setiap hari penampilan seperti itu yang ku lihat dari dia. Benar-benar tidak berubah sejak SMA. Makanya itu aku selalu memanggilnya dengan Bule Butut (^_^), cowok bule yang gak pernah perhatiin penampilan. Tapi jangan salah, dia paling pantang kalo gak mandi, karena tiap kali ketemu, selalu aku mengirup bau sabun favorit dia. Dan dia paling Bete banget kalau ada jerawat di mukanya yang halus. Duh susah banget ya jelasin kepribadiannya, cuek tapi kok takut jerawat (@_@)
”Non, habis ini acara loe apa? Temenin gue yuk!”
Katanya sambil selonjorin kakinya yang panjang di bawah meja.
”Kemana?”
Aku jawab singkat dengan terus perhatiin buku-buku tebal di depanku
”Bete nich! Pengen having fun!”
Setelah mendengar kata-katanya itu, pandanganku beralih memperhatikan wajahnya yang lesuh
”Hello....ini masih hari senin Pak! Kok lemes gitu sech! Lagian kalo’ mau having fun enakan week end kali!!!”
Dia ngrespon jawabanku dengan hanya mengangkat sebelah alis dan sebelah bagian bibirnya. Baru itu aku sadar kalo’ dia bener-bener lagi bete.
”Jadi ngajak ke mana nich? Okey gue temenin, cuman entar sore gue harus kuliah lagi!”
Mendengar jawabanku dia semangat menutup semua buku-buku di depanku yang masih berantakan, dan secepat itu juga mengangkatnya lalu membawa pergi.
”Hey ga’ sopan, mau dibawa kemana tuh buku....gue masih butuh tau!”
Kataku sambil mengejar dia yang udah keburu lari membawa buku-buku yang mau aku pinjam.
”Mbak nich pinjam semuanya! Cepetan ya mbak!”
Katanya sesampainya di meja petugas perpustakaan
”Ehm yang dua ini pake’ kartu saya, yang tiga pake’ kartu dia”
Katanya lagi sambil menyambar dompetku untuk mengambil KTMku
”Duh ga’ sopan banget Bule butut satu ini!”
Gumamku dalam hati.....
Setelah beres meminjam buku tebal-tebal itu, kita langsung meninggalkan perpustakaan besar itu. Ditengah perjalanan dari perpustakaan ke parkiran, dia jalannya cepet banget...padahal aku udah berlari kecil, tapi tetap aja ga’ bisa menyusul langkah besarnya!
”Weh Bule butut! Tungguin gue dong! Langkah loe itu panjang banget, loe kalo’ jalan jangan cepet-cepet...gue capek ngejar loe!”
Dia menghentikan langkahnya. Huff akhirnya....
”Ayo cepet.....”
Setelah menyusulnya, kamipun berjalan bersama. Tak terasa kami sudah di parkiran, tapi ...
”Lho kok parkiran mobil, bukannya kamu bawa motor?”
Kataku agak keheranan.
”Iya hari ini gue khusus bawa mobil, itu mobil gue....ayo!”
Ajaknya sambil menunjukkan Honda Jazz warna biru metalik yang udah dimodif lengkap dengan sayap belakangnya.
”Cieeee....keren juga mobil loe...lebih ganteng mobilnya dari pada yang punya!”
Olokku sambil nyengir. Dia cuma cengengesan sambil bukain pintu depan sebelah kiri untukku
”Silahkan Tuan Putri....”
”Terima kasih Pak Supir...he he he...”
Jawabanku sambil nyengir. Setelah itu diapun masuk dan mulai menyetater mobilnya. Setelah mobil melaju, tangan kirinya menyalahkan tape dan memutar lagu milik Muse-Histeria, berhubung aku juga suka band itu, jadi aku enjoy aja dengan situasi saat itu.
Sepanjang jalan kami lalui dengan saling menyauti lirih milik Muse. Tapi....saat aku melirik wajahnya, tampaknya ada sesuatu ehm....kaya’nya dia menyimpan masalah. Ehm...tanya ga’ ya????? Ah biar dia cerita sendiri.
”Yu’....gue pengen ngekos, tau ga’ tempat kos cowok yang enak!”
Katanya sambil tetap perhatikan jalan, aku bener-bener terkejut ma omongan dia.
”Kos? Lha loe kan punya rumah di sini, ngapain kos?”
Tanyaku agak heran, dia balas dengan senyuman, beberapa detik kemudian baru mengeluarkan suara lewat mulutnya.
”Aku pingin mandiri aja, yaaa itung-itung belajar hidup sendiri and juga berjuang hidup sendiri, bolehkan?”
Aku masih belum mengerti maksud kata-katanya itu, aku pandang dia dengan mencari suatu jawaban dari matanya, sebenarnya ada apa dengan sobatku yang satu ini???....
”Boleh hidup mandiri...ya Cuma harus punya tujuan and alasan kenapa pingin mandiri, kalo cuman tadi alasanmu ga’ perlu sampe’ ngekos segala kan?”
Tanyaku kemudian
”Eh di deket kosanmu kan ada kosan cowok, di situ ada kamar kosong kan? Kalo’ ada aku kos di situ aja dech!”
Aku tambah terkejut sama ucapannya tadi.
”Lha....kok malah gitu...yaa...aku tambah lebih bingung lagi....!”
Dia malah senyum sambil ngelirik ke arahku
”Jadi...taukan alasanku???”
Aku menghela napas dan menggelengkan kepalaku.
”Aku pingin deket ma cewek yang dah sering bikin aku kesel tiap hari, kalo’ aku kos di dekatnya kan tambah gampang balas keusilan dia. Gimana?”
Aku tambah lebih bingung lagi...spontan liat dia dengan mimik melotot dan mulut sedikit terbuka.
”Lue kesel ma cewek??? Sapa dia? Gue kenal? Dia kos dimana? Di kosan gue? Sapa?”
”Ya...emang kalo’ lagi bingung jadi low batt and signalnya putus! Ya elu lah orangnya ...bego’!”
Aku tambah terkejut lagi!
”Haah....gue....Aduh Ndre....jadi selama ini loe keberatan ma keusilan gue? Loe kesel ya? Duh maafin gue ya...bukan maksud gue untuk ngejek loe kaya’ gitu....gue Cuma becanda aja kok...maafin gue....”
Mendengar kata-kataku yang panjang dia malah terkejut
”Eh Yu’ bukan gitu maksudku.... duh jadi salah ngomong nich...eh kita dah sampai, kita lanjutin aja sambil makan di situ...Okey!”
Katanya sambil menghentikan mobilnya dan parkir di sebuah warung tenda deket danau pinggir kota. Aku ikut saja dengan kemauan dia sambil merasa bersalah ma perbuatanku selama ini.
Kami keluar mobil dan memilih tempat yang cukup adem di bawah pohon besar dengan meja menghadap ke arah pohon, meja itu hanya berisi dua kursi rotan dan di atas meja terdapat satu botol kecap, satu botol saus tomat yang isinya sudah separuh, semangkuk sambal dan di paling ujungnya ada sekaleng kecil tusuk gigi. Ya emang bener warung tenda itu menyediakan menu bakso khas kota hijau ini dan tak ketinggalan mie ayam yang aromanya telah membuat cacing di perutku sudah berdansa. Kami pesan satu mangkok bakso lengkap untuk Andre dan satu mangkok mie ayam untukku juga tak lupa teh hangat.
Setelah memesan makanan, Andre duduk di sebelahku, dia melirikku dan mulai tersenyum.
”Yuk...tadi maksudku bukan gitu, aku ga’ pernah keberatan ma keusilanmu, malah aku seneng banget punya teman kaya’ kamu. tiap kali ketemu kamu, aku jadi ketawa lagi. Ga’ ada seorangpun yang bisa membuatku ketawa seperti kamu. Kamu itu temen cewekku yang paling deket, jadi aku pingin lebih deket denganmu! Itu maksudku”
Wow...mendengarnya sangat lega, aku balas kata-katanya dengan senyumanku yang paling manis, tapi tunggu sebentar, kok jadi aku-kamu ya? Belum sempet aku tanya dia ngomong lagi.
”Kamu tuh lucu banget. Liat kamu seperti menemukan obat yang selama ini aku cari. Di rumahku ga’ ada suasana seperti denganmu! Karena itu juga aku pingin sekali bisa kos di dekatmu dan ketemu kamu terus. Itulah alasanku!”
”Oooo jadi gitu ya! Huff lega banget, kirain lue marah ma gue”
”Ya ga’ mungkinlah aku marah cuman karena diusilin kaya’ gitu, lagian keusilanmu itu levelnya masih standart Non!”
”Masih standart???? Lha kalo’ yang parah kaya’ gimana?”
”Kalo’ parah paling-paling aku dah masuk rumah sakit.....haaa haaa haa!”
Dia ketawa ngakak, aku juga ikut ketawa. Setelah itu, makanan yang kami pesen datang juga. Kami pun mulai menyantap makanan itu.
Setelah menghabiskan makanan, kamipun berpindah tempat ke taman dekat danau. Tak jauh dari warung tenda itu, kira-kira 100 meter ke arah baratnya. Di sana kami duduk di bangku taman. Kami mengobrol dan bercanda, banyak yang kami bicarakan, dari masalah kuliah, hobby sampai kasih komentar tentang orang-orang yang lewat di trotoar jalan atau mobil-mobil yang lewat di depan taman. Namun, cerita yang kunantikan tak kunjung ku dapatkan. Dia masih belum cerita tentang permasalahan yang membuat sinar matanya berubah. Aku tak berani bertanya, karena aku tak ingin mengubah raut wajahnya yang sidikit tampak ceria dibandingkan tadi. Tak terasa dua jam-pun berlalu. Aku minta diantar pulang ke kos, karena sejak tadi pagi aku belum pulang kesana dan sejam lagi aku harus masuk kuliah lagi. Akhirnya kamipun meninggalkan tempat kami bercanda itu.
Bersambung..... (^_^)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar